oleh

“Museum of The Legend Belinyu”, Persektif Peradaban di Masa Lampau

Belinyu, Swakarya.Com. Kota Belinyu sebagai suatu kota yang terbentuk secara administratif ditetapkan oleh Pemerintahan Hindia Belanda untuk mempermudah dalam kegiatan penambangan timah.

Dalam hal perjalanan waktu, secara bertahap dilakukan pembangunan dalam rangka mendukung kegiatan penambangan timah dengan membangun infrastruktur baik bangunan, pembukaan jalan-jalan baru dan yang paling tersohor adalah PLTU Mantung yang diresmikan pada tahun 1901 sebagai pembangkit listrik terbesar se-Asia Tenggara.

Perencanaan yang dibuat oleh Pemerintahan Hindia-Belanda mengacu kepada desain Eropa tempo dulu sehingga sangat menarik dalam pengkajian riset dikemudian hari.

Sebagai perusahaan penambangan timah yang dahulunya bernama Banka Tin Winning, PT. TIMAH, Tbk yang merupakan salah satu perusahaan BUMN berniat membangun Museum of The Legend dan membuat suatu perencanaan kawasan Heritage Belinyu yang sebelumnya telah dibangun Museum Timah Indonesia di Kota Mentok dan Kota Pangkalpinang.

Penambangan timah yang selama ini berlangsung sampai saat ini memberikan kontribusi membangun peradaban yang ada di Pulau Bangka khususnya di Belinyu.

Untuk mendukung niatan tersebut, PT. TIMAH mengadakan kegiatan seminar bertajuk “Kawasan Heritage Belinyu dalam Perspektif dan Pengembangan” yang dilaksanakan oleh PT. TIMAH Tbk tanggal 7 November 2019 lalu di Gedung Krida Stania Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka, dan yang dibuka oleh Staff Ahli Bupati Bangka bidang Perekonomian Syafarudin mewakili Bupati Bangka.

Pemerintah Kabupaten Bangka menurut Syafarudin dalam kata sambutannya sangat mendukung sekali hajatan ini dengan membangun “Museum of The Legend Belinyu” untuk merangkai kembali sejarah yang ada, membangun kejayaan penambangan timah di Belinyu di masa lampau sekaligus mendukung pariwisata di Kabupaten Bangka.

Dalam seminar ini dihadiri oleh Direktur SDM PT. TIMAH Tbk Muhammad Riski, unsur MUSPIKA Kecamatan Belinyu, para lurah, para kades, tokoh masyarakat, praktisi sejarah dan budaya.

Muhammad Riski dalam presentasi rencana pembangunan Museum of The Legend mengatakan, BUMN dengan jargon Hadir untuk Negeri akan mengimplementasikan niat yang bertujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana penambangan timah membentuk suatu peradaban dan mempengaruhi kebudayaan yang ada di Pulau Bangka.

Kajian secara akademis juga dipresentasikan oleh para pakar-pakar ilmu budaya dari UGM Prof. Dr. Bambang Purwanto, pakar heritage design Prof. Kiemas Ridwan Kurniawan, ST., M.Sc., PhD dari UI, Sosiolog dan juga putra kelahiran Belinyu Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc., sejarawan Bangka Belitung Drs. Akhmad Elvian, dan penulis buku Korpus Mapur, Islamisasi di Pulau Bangka sekaligus tokoh muda kelahiran Belinyu Teungku Sayid Deqy, SE.

Masyarakat Belinyu sangat menyambut baik akan berdirinya Museum of The Legend ini dengan memberikan masukan-masukan agar di kemudian hari Museum bukan hanya sebagai tempat menyimpan benda-benda peninggalan zaman dahulu namun sesuatu yang tidak berwujud seperti legenda rakyat, hikayat, pantun, mitos, tarian dan lain-lain juga dapat disajikan di dalam museum sehingga pemahaman kepada generasi dapat diterima dengan baik.

Eri Lesmana selaku Pembina Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Kabupaten Bangka turut hadir dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa ide membangun museum of the legend ini sangat bagus dan mendukung pariwisata di utara pulau Bangka.

Dengan bertambahnya destinasi kawasan heritage dan museum akan menarik wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara untuk berkunjung dan menikmati sajian sejarah yang unik.

“Diharapkan juga dapat membantu perekonomian masyarakat sekitar melalui legenda kuliner Belinyu,” kata Eri. (Tahir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait