oleh

Tiada Masa Depan yang Cerah, Tanpa Masa Lalu yang Gelap

Penulis : Andres Pransiska, S.Pd, Guru SMPN Satu Atap Belantaraya

Swakarya.Com. Dalam sebuah kesempatan diskusi di kelas disuatu sekolah tempat saya mengajar sejarah disebuah pelosok Indonesia. Pernah saya bertanya kepada anak-anak murid saya, “Adakah yang tahu siapakah pahlawan nasional yang berasal dari Riau??”.

Semuanya diam, suasana hening, dan terlihat lipatan kerutan diwajah mereka.


Diam dan heningnya mereka bukan karena pertanda mereka tahu, justru sebaliknya tidak ada satupun diantara mereka yang tahu.

Kemudian saya lanjutkan pertanyaan saya, “Siapakah yang tahu pahlawan nasional Indonesia??”, Satu dua mereka menjawab, “Pangeran Diponegoro Pak”, ada yang menjawab Tuanku Imam Bonjol, ada yang menjawab Kartini, ada yang menjawab Cut Nyak Dhien, dan lebih banyak yang diam membeku.


Kemudian kembali saya lanjutkan pertanyaan, “Adakah yang tahu alasan kenapa mereka dijadikan pahlawan nasional??”.

Kembali suasana kelas menjadi hening. Dan tak jarang ada yang garuk garuk kepala.

Begitulah adanya sekelumit masalah yang kadang kita temukan ketika mengajar sejarah.

Jangankan untuk mengetahui kiprah dan perjuang mereka sebagai pahlawan nasional di Riau, untuk sekedar tahu namanya saja mereka banyak yang tidak tahu.

Padahal notabenenya mereka, anak-anak murid saya adalah orang-orang Riau. Masa orang Riau tidak tahu dengan pahlawan Riau??

Maka jika saya sebagai gurunya tidak menjelaskan dan memancing dengan pertanyaan tadi, mungkin mereka tidak akan mengetahuinya sama sekali.

Kalau kita cermati, Jika mereka yang belajar sejarah dengan Jam pelajaran yang banyak saja masih banyak yang “buta sejarah”, apalagi jika Mapel sejarah akan dihapuskan dan dikurangi jumlah jamnya. Maka akan menjadi lebih parah lagi, yakni “Amnesia Sejarah”.

Ini hanya satu dari sekian banyak studi kasus belajar sejarah disekolah. Masih banyak kisah-kisah yang lainnya.

Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya jika Sejarah dihapuskan dan dikurangi jamnya dari mata pelajaran di sekolah.

Polemik Penghapusan dan pengurangan jam pelajaran Mapel Sejarah kini memasuki tahap baru, setelah beredarnya data mengenai sosialisasi kurikulum dan assessmen nasional dari kementrian pendidikan dan kebudayaan.

Menuai banyak tanggapan dan kritikan mulai dari berbagai kalangan termasuk diantaranya adalah para Guru Sejarah yang tergabung di AGSI (Asosiasi Guru Sejarah Indonesia).

Sehingga sebagai bentuk penyikapan dibuatlah Webinar yang digagas oleh IKA Pendidikan Sejak UPI dengan tema, “Matikan sejarah: kritik atas rancangan kurikulum 2020” pada hari Kamis, 17 September 2020.

Pasca dari pertemuan tersebut, tak lama berselang munculah siaran pers dari Kementiran Pendidikan dan Kebudayaan Tentang “Pelajaran Sejarah akan tetap ada didalam kurikulum”.

Ada sebuah kerancuan ketika kita mencermati dan memahami siaran pers tersebut. Jika jika mengacu draft Penyederhanaan Kurikulum bahwa di SMA mata pelajaran sejarah memang tetap ada tapi “dilucuti” sebagai sebuah pilihan, bukan keharusan, sedangkan di SMK mata pelajaran sejarah sama sekali dihilangkan dalam strukturnya.


Maka redaksi yang tepat sebenarnya adalah mengembalikan posisi mata pelajaran sejarah di SMA kedalam kelompok dasar/wajib bukan pilihan dan mengembalikan mata pelajaran sejarah di SMK yang dihapuskan.

Jika sejarah sebagai sebuah mata pelajaran adalah bagian dari iktikad
baik pemerintah kita untuk membangun jati diri bangsa dan untuk mengajarkan anak-anak supaya tidak melupakan sejarah bangsanya, terutama dari mata rantai terkecil yang bernama sekolah.

Maka sudah sepantasnya jika hal-hal tersebut sepenuhnya harus didukung. Bukan hanya dari segi kata-kata belaka, melainkan juga dalam hal kebijakan.

Bukan malah sebaliknya, mencoba menghilangkan, mengkerdilkan, bahkan mengurangi jam pelajaran sejarah yang dianggap penting.

Bukankah founding father kita sendiri, Ir. Soekarno yang berkata Jasmerah, Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Jika engkau meninggalkan sejarah yang sudah, engkau akan berdiri atas vacuum. Engkau akan berdiri di atas kekosongan, lantas engkau akan menjadi bingung.

Perjuanganmu hanya sebatas amuk. Amuk belaka! Amuk, seperti kera terjepit dalam gelap. (Jasmerah : hal 204).

Inilah isyarat bahwa kemajuan saat ini, tidak bisa lepas dari campur tangan perjuangan orang-orang dulu, nenek moyang. Jadi, tak mungkin membuang hasil masa lampau.

Sebab, kemajuan sekarang adalah akumulasi hasil-hasil perjuangan-perjuangan masa lalu. Dengan kata lain, sejarah harus dikenang dan diabadikan.

Dengan sejarah seseorang bisa tahu kejadian masa lampau. Lewat sejarah pula orang Indonesia bisa menikmati kehidupan damai dan tenteram sekarang.

Maka sejarah sebagai pembelajaran untuk menemukan pengetahuan baru untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dan penuh kerukunan.

Maka benarlah, Untuk menghancurkan sebuah bangsa tidak perlu membombardir negara tersebut. Cukup hancurkan ingatan (sejarah) anak-anak mudanya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, kenapa bangsa ini tidak pernah besar, karena tidak mau menghargai sejarahnya. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait