Turunnya Kualitas Mahasiswa, Akibat Kuliah Online!

Penulis: Nika Sari, Jurusan Hukum UBB

Swakarya.Com. Sejak munculnya Covid-19 diakhir tahun 2019, semua kegiatan didunia khususnya di Indonesia ini mendadak terhenti dan terbatas pergerakannya. Termasuk juga Kegiatan dalam proses Pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP/MTS, SMA/SMK, hingga jenjang Perkuliahan. Seperti yang kita ketahui bersama, di jenjang Pendidikan Mahasiswa merupakan yang tertinggi secara jenjang Pendidikannya, dan di klaim menjadi salah satu yang berharga.

Namun, bukannya belajar sesuai dengan kewajibannya, tetapi justru berleha-leha dan hanya bergaya. Padahal mereka mendapatkan kepercayaan diri yang besar namun justru hanya sedikit ilmu yang dimiliki.

Lebihnya lagi, mereka tidak menggali kemampuannya untuk berpikir kritis, yang dapat menjadikan hal itu sebagai bekal mereka untuk terus belajar. Juga tidak berkembangnya Kreativitas akibat berpikir yang tidak berkembang atau tidak bernalar, merupakan dampak tidak berkembangnya kemampuan mental yang dimiliki oleh Mahasiswa.

Akibat tidak berkembangnya kemampuan berpikir itu kelak akan membuat Mahasiswa ke arah yang sesat. Dan mungkin juga setiap Universitas atau Perguruan Tinggi hanya akan menghasilkan calon tenaga kerja dengan kualitas yang rendah, bahkan besar kemungkinannya hanya akan menjadi pengangguran saja.

Dahulu, pada saat Indonesia masih dijajah oleh Pemerintah Belanda, pernah juga mereka mencoba untuk mengubur mental bangsa Indonesia dengan mengeluarkan kebijakan Politik Etis. Salah satu kebijakannya yang diberikan kepada bangsa Indonesia adalah membuka sekolah hanya khusus untuk kaum bumi putra. Hal itu belanda lakukan untuk balas budi kepada Indonesia yang terus memberikan kas negara melalui program-program kolonialisasinya.

Jelas saja masyarakat Indonesia senang dengan apa yang diberikan Belanda tanpa mengetahui bahwa, sebenernya Belanda mempunyai tujuan terselubung yaitu untuk menghasilkan tenaga kerja yang dapat dibayar dengan upah murah dari sekolah-sekolah kaum bumi putra. Dan nampaknya program itu cukup berhasil sehingga menghasilkan tenaga kerja yang mentalnya hasil dari didikan belanda dan kemampuan berpikirnya sederhana sehingga tidak berpikir kritis yang akhirnya dapat dibayar dengan upah murah. Pada umumnya pekerja itu hanya dibuat Belanda menjadi tukang tulis saja.

Namun, dari hasil sekolah yang dibuat oleh Belanda itu justru muncul Tokoh Nasional yang lahir dari sekolah itu, yang mana mereka akhirnya memiliki kemampuan berpikir yang kritis dan menalar sehingga, mereka pada akhirnya menentang pemerintah Belanda. Hal ini karena Kondisi mereka yang tidak berhasil dikurung oleh Belanda.

Kreativitas mereka berkembang dan menalar dalam cara berpikir yang mereka punya. Mereka tahu dan mengerti bagaimana caranya memposisikan diri sebagai kaum intelektual bukan hanya sebagai kaum pekerja yang kerjanya hanya menjadi tukang tulis bagi pegawai rendah pemerintah Belanda. Dan berdasarkan dari pengalaman para Tokoh Nasional itu kita dapat sama-sama mengetahui apa yang terjadi di masa itu sekarangpun terjadi, yang mana Mahasiswa cara berpikirnya tidak kritis dan tidak menalar.

Mengenai kebijakan pembelajaran diterapkan di Indonesia setelah munculnya kasus pasien yang terjangkit virus Covid-19 (Corona Virus Disease 19) atau yang biasa kita kenal dengan nama Virus Corona. Oleh karena Status virus ini terus meningkat hingga mencapai pandemi sehingga pemerintah menganjurkan melakukan aktivitas apapun di rumah termasuk bekerja, belajar, dan lain sebagainya. Keadaan ini membuat Dosen dan Mahasiswa melakukan pembelajaran dalam jaringan (daring) atau secara online.

Dalam hal ini pun Pemerintah tidak tinggal diam, sehingga membuka akses Online bagi Siswa dan Mahasiswa untuk belajar Online secara gratis dan memberikan kuota Internet.

Kebijakan ini mendapatkan berbagai macam respons, salah satunya Mahasiswa merasa pembelajaran itu tidak efektif karena tidak adanya tatap muka langsung. Kritik tersebut tentu tidak relevan dengan kondisi negara saat ini. Ini merupakan salah satu contoh sikap kritis Mahasiswa yang tajam tetapi minim pengetahuan.

Kemampuan berpikirnya berjalan tetapi tidak disandingkan dengan pengetahuan yang cukup luas. Keluhan lainnya adalah mereka merasa berat dengan beban tugas yang bertambah, aplikasi yang sulit dioperasikan, serta jaringan yang tidak mendukung dan lain sebagainya.

Terkait masalah semacam ini merupakan hal teknis yang dirasakan oleh Mahasiswa. Akan tetapi, teknologi yang mereka gunakan juga dapat memberi petunjuk penggunaan aplikasi. Tidak banyak Mahasiswa yang menggunakan fasilitas tutorial tersebut.

Saat keadaan seperti ini, seharusnya kemampuan cara berpikir mereka harus berjalan dengan baik agar dapat mengatasi masalah teknis dan membangkitkan kreativitas dalam diri masing-masing. Bahkan lebih parah lagi, mereka terkesan tidak membaca petunjuk sebelum mengeluh. Sepertinya Mahasiswa sangat Lalai atau santai dengan kondisi baru ini. Mereka tidak siap dengan kondisi baru karena sering berhadapan dengan hal instan.

Semakin berkembangnya Zaman maka teknologi akan selalu berkembang dan menyediakan berbagai macam yang dapat diperoleh dengan cepat. Misalnya saja kebutuhan sehari-hari seperti, alat-alat rumah tangga, produk Kecantikan, Buku, Makanan dan lain sebagainya dapat kita peroleh dengan sekali pencet.

Tetapi ketika dihadapkan pada kondisi pembelajaran Mahasiswa justru mengeluh dengan sistemnya yang tidak efektif. Mengapa mereka hanya kritis pada sistem yang merugikan mereka, tidak kritis pada sistem yang menguntungkan mereka?. Dan pula, Mahasiswa melupakan hal substansial. Seharusnya sebagai calon tenaga kerja yang berkualitas nantinya, alangkah sebaiknya Mahasiswa lebih sering mengasah nalar untuk berpikir kritis, dapat diumpakan seperti seseringnya mereka mengonsumsi Mie Instan, agar dapat menjadi Mahasiswa yang berkualitas dan menjadi tenaga kerja yang memiliki kemampuan yang baik.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *