oleh

Denny JA Tentang Masa Depan Kebebasan (16) Jalan Demokrasi Dan Kebebasan Untuk Dunia Muslim

  • Mungkinkah?

Swakarya.Com. Mengapa 50 negara yang mayoritasnya Muslim terkebelakang soal demokrasi dan kebebasan? Apa yang terjadi dengan kawasan itu? Seberapa besar interpretasi Agama Islam sendiri menjadi penyebab?

Mungkinkah terjadi gelombang perubahan peradaban di sana? Tiga puluh tahun dari sekarang misalnya, bisakah sebagian besar dari 50 negara mayoritas Muslim itu bertransisi? Lalu semua kita terperangah? Aha! Dunia muslim akhirnya mengambil jalan Demokrasi? Wow! Dunia muslim berada di jalan kebebasan?

Imajinasi dan pertanyaan itu berlompatan di kepala saya. Penyebabnya sebuah laporan di tahun 2019. Ia analisa dan data dari 167 negara di dunia. Di antara itu, terdapat 50 negara yang mayoritas penduduknya Muslim (selanjutnya disebut Negara Muslim).

Economist Inteligence Unit membuat rangking negara berdasarkan kualitas demokrasi dan kebebasan. Sebanyak 167 negara dapat diperbandingkan satu sama lain. Bahkan setiap negara dapat melihat pertumbuhan atau kemunduran kualitas demokrasi dari tahun per tahun.

Index democrasi itu disusun pertama kali sejak tahun 2006. Setiap tahun data diperbaharui. Metodelogi juga dimatangkan. Penilaian diberikan berdasarkan gabungan antara survei opini publik dan penilain para ahli.

Sebanyak 60 indikator dihitung. Lima kategori diutamakan. Yaitu proses pemilihan umum (electoral process and pluralism), kebebasan (civil liberties), kapabilitas pemerintahan (the functioning of government), partisipasi politik (political participation) dan kultur politik (political culture).

Indikator itu dibobot dan diberi score: 0-10. Semakin tinggi skor, semakin bernilai kualitas demokrasi sebuah negara.

Economist Inteligence Unit pun membuat empat klaster kualitas demokrasi. Yang paling berkualitas, ia sebut dengan Demokrasi Yang Matang (Full Democracy), dengan skor antara 8.01- 10.

Di bawah Full Democracy, terdapat Demokrasi Setengah Matang (Flawed Democracy). Skornya antara 6.01- 8. Kemudian klaster negara yang disebut Sistem Campuran (Hybrid Regimes). Ini sistem gabungan sebagian demokrasi, sebagai rezim otoriter. Skornya: 4-6.

Klaster yang paling rendah adalah rezim otoriter (Authoritarian Regimes). Skor kluster ini mulai dari 0-4.

Dimanakah posisi 50 negara Muslim?

Untuk klaster negara demokrasi yang matang, di tahun 2019, tak ada satupun dari 50 negara Muslim di sana. Itu klaster untuk negara yang sangat berkualitas dari sisi demokrasi dan kebebasan. Klaster ini hanya diisi oleh 22 negara Eropa dan Amerika Latin. Terdapat negara seperti Norwegia, Swedia, Finlandia, Denmark, Australia, Jerman, Inggris, Uruguai, Spanyol, Costa Rica, Chilie, Perancis dan Portugal.

Untuk klaster negara Demokrasi Yang Matang, dari lima puluh (50) Negara Muslim, yang hadir di sana 0 persen. Nehi! Tiada! Nihil!

Untuk klaster di bawahnya: Demokrasi Setengah Matang (Flawed Democracy), hadir tiga Negara Muslim. Ia adalah Malaysia (rangking 43, Skor 7.16). Tunia (rangking 53, Skor 6.72). Dan Indonesia (rangking 64, Skor 6.48).

Dari lima puluh (50) negara Muslim, hanya tiga (3) negara yang masuk kategori Demokrasi Setengah Matang (Flawed Democracy). Alias, hanya 6 persen dari 50 negara Muslim.

Klaster berikutnya: Sistem Politik Campuran (Hybrid Regimes). Dari lima puluh (50) Negara Muslim hanya tujuh belas (17) negara yang masuk kategori itu. Alias hanya 35 persen Negara Muslim berada di sana.

Dari 17 Negara Muslim itu terdapat antara lain: Senegal, Maroko, Pakistan, Mali, Turki. Skor tertinggi untuk klaster ini: Albania (Rangking 75, Skor 5.89). Skor terendah: Aljazair (Rangking 113, Skor 4.01).

Lalu dimanakah mayoritas Negara Muslim? Sebanyak 30 Negara Muslim berada pada kualitas demoktasi dan kebebasan paling rendah. Inilah rezim otoriter (Authoritarian Regime). Dengan kata lain, 60 persen dari Negara Muslim berada pada halaman paling buncit dari evolusi kualitas demokrasi dan kebebasan.

Saudi Arabia, Mesir, Irak, Iran ada di sana. Juga ada pada klaster terendah: Afganistan, Yaman, Kuwait, dan Sudah. Skor tertinggi untuk Klaster ini adalah Jordania (Rangking 114, Skor 3.93). Yang paling rendah: Suriah (rangking 164, Skor 1.43)

Itulah wajah global lima puluh (50) Negara Muslim, menurut Index Demokrasi yang disusun oleh Economist Inteligence Unit. Nol persen berada di Demokrasi Yang Matang. Sebanyak 6 persen hadir di Demokrasi Setengah Matang. Sekitar 15 persen hidup di Sistem Politik Campuran. Mayoritas 60 persen berada di sistem politik paling terkebelakang: politik otoriter.

Sudah banyak tulisan yang membahas apa yang menjadi penyebab. Dunia Muslim pernah menjadi peradaban paling maju, yang disebut Islam Golden Age. Itu abad ke 8-14: berlangsung selama 600 tahun. Ilmu pengetahuan bagi dunia mengalir dari kawasan Muslim.

Saat itu Dunia Barat masih dalam kegelapan. Dunia Muslim menjadi obor dan cahaya. Mengapa kini situasi berbalik? Dunia Muslim yang bercahaya terperosok dalam politik yang terkebelakang? What Went Wrong?

Esai kali ini tak mengekspor soal mengapa. Esai ini justru ingin melompat lebih jauh. Mungkinkah kawasan 50 Negara Muslim itu pada satu kala didominasi oleh negara yang mengambil jalan demokrasi? Mungkinkah pada satu masa, lebih banyak dari 50 Negara Muslim itu menempuh jalan kebebasan?

Jawab dari pertanyaan itu: sangat mungkin! Lebih tegas lagi: Harus! Pew Research Center, lembaga penelitian yang berpusat di Amerika Serikat sudah membuat proyeksi. Pada tahun 2070, untuk pertama kalinya penduduk beragama Islam akan menjadi penduduk terbesar di dunia.

Di tahun 2070, penduduk Muslim melampaui bahkan penduduk beragama Kristen. Penyebab utama bukan karena banyak penduduk berpindah memeluk agama Islam. Tapi ini terjadi karena angka kelahiran Dunia Muslim jauh lebih tinggi dibandingkan penduduk agama lain.

Apa yang terjadi pada penduduk yang bakal mayoritas dunia ini sangat berpengaruh pada kualitas hidup di bumi. Kuantitas dan jumlah itu sesuatu!

Sebagian dari lima puluh negara Muslim harus dan bisa mengambil jalan demokrasi dan kebebasan. Kali ini kita menjawab dulu mengapa Negara Muslim bisa?

Lihatlah sejarah. Pelajari hukum besi yang mengatur peradaban. Renungkan dinamika sosial yang sudah berlangsung sepanjang lima ribu tahun.

Tak ada satu kawasan pun yang kontrak mati hanya menerapkan satu sistem politik sepanjang hidupnya. Tak ada sejengkal tanah pun yang tak berubah selama lima ribu tahun peradaban.

Terbang dengan kacamata burung mengamati lima ribu tahun peradaban, terlihat pasti. Tak ada yang abadi di dunia nyata. Yang tak berubah hanya perubahan. Yang ada, yang nyata, yang hadir hanyalah buah dari dinamika dan pertarungan kelompok sosial, gagasan, dan kompromi kepentingan.

Pelajarilah Bulgaria. Ini satu dari 10 kawasan paling tua sepanjang peradaban. Kawasan itu menjadi saksi, aneka sistem politik, ekonomi dan budaya datang, hidup dan berubah di sana.

Bulgaria sudah berdiri sejak nenek moyang hidup. Sekitar 600 tahun sebelum masehi, Bulgaria masih menjadi tempat berpindah-pindahnya nenek moyang untuk berburu. Ia juga menjadi saksi peradaban yang berubah, dari pertanian, industri dan kini datang era digital.

Di tahun 1946, setelah selesai perang dunia kedua, Bulgaria juga menjadi saksi. Wilayah ini sepenuhnya beroperasi sistem politik komunisme. Ia juga menjalankan bagian sistem ekonomi Uni Sovyet yang tertutup bagi swasta.

Politik bergolak. Ekonomi berubah. Di Bulgaria yang sama, kini beroperasi sistem politik dan ekonomi yang sama sekali berbeda. Bulgaria kini menjadi bagian dari sistem politik demokrasi. Ekonomi Kapitalisme.

Di Bulgaria, kita menyaksikan. Satu kawasan yang sama, satu wilayah yang itu- itu juga, dapat mengoperasikan aneka sustem politik dan ekonomi yang sangat berbeda.

Lima puluh (50) Negara Muslim tak banyak berbeda dengan Bulgaria. Mereka berada di bumi yang sama. Mereka tunduk pada hukum besi politik dan ekonomi yang sama. Mereka produk dari konstruksi sosial dan sejarah yang sama!

Sebagaimana Bulgaria, Dunia Muslim pun dapat hijrah. Jalan Demokrasi dan Kebebasan menjadi pilihan.

Di tahun 1963, 28 Agustus, Martin Luther King berpidato: I Have a Dream. Saya bermimpi, ujarnya. Satu ketika manusia tidak dinilai dari warna kulitnya. Tapi dari karakternya. Warga kulit putih dan kulit hitam duduk sama rendah. Mereka juga berdiri sama tinggi dalam meja kemanusiaan.

Martin Luther King menyatakan itu dalam situasi mengerasnya diskriminasi atas kulit hitam di Amerika Serikat. Ketika Ia berpidato, seolah Martin Luther King bermimpi yang mustahil.

Tapi mimpi itu menginjak bumi. Bahkan Januari 2009, 46 tahun kemudian, seorang kulit hitam menjadi presiden di Amerika Serikat: Barack Obama. Cucu dari kulit hitam yang dulu menjadi budak bahkan dipilih oleh kulit putih menjadi presiden mereka.

I have a dream yang sama dapat digaungkan untuk dunia muslim. Saya bermimpi, pada satu masa, dunia Muslim berbondong- bondong mengambil jalan demokrasi. Sebagian kawasan itu secara sadar memilih jalan kebebasan.

Mimpi itu bukan mustahil. Peradaban memang tengah bergerak ke sana.

(Bersambung)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait