by

Cetak Profesi MC Profesional, DPW LDII Babel Gelar Training Master of Ceremony

Pangkalpinang, Swakarya.com. PROFESI Master of Ceremony (MC) merupakan salah satu pekerjaan yang saat ini memiliki peluang bagus untuk ditekuni.

Nyaris setiap kegiatan yang melibatkan banyak orang dapat dipastikan membutuhkan MC atau pembawa acara guna menata protokoler kegiatan agar tertata dengan baik. Sehingga akan sangat berguna bila seseorang memiliki kemampuan atau setidaknya punya ketrampilan ini.

Demikian disampaikan oleh Direktur Succes Academia, Nardi Pratomo saat memberikan materi pelatihan “Menjadi Pembawa Acara yang Baik dan Benar” bagi 19 perwakilan pengurus Lembaga Dakwah Islam Indonesia
(LDII) se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu (20/07) di Pangkalpinang.

Dijelaskannya, bahwa pembawa acara memang bukan sekadar membacakan urutan rangkaian acara yang telah disusun oleh pihak panitia atau penyelenggara kegiatan. Namun lebih dari itu, seorang pembawa acara harus mampu membangun suasana menjadi lebih nyaman dan memiki kesan sesuai dengan tujuan kegiatan itu digelar.

Sehingga kemampuan publik speaking serta berbagai ilmu pengetahuan  disertai pengalaman akan sangat membantu bagi seorang MC dalam membawa acara yg diembannya.

“Tugas seorang MC harus memiliki kemampuan berbahasa yang baik, memiliki pengetahuan luas serta kaya akan pengalaman sangat membantu dalam menjalankan pekerjaan ini,” tuturnya.

Diadakan pelatihan ini karena masih sedikit pengurus LDII Babel yang benar-benar total menekuni profesi sebagai MC, sehingga dari pelatihan ini diharapkan nantinya akan lebih banyak lagi mencetak MC yang profesional.

Ditegaskan Nardi, menjadi seorang MC harus dapat menempatkan diri sesuai dengan agenda acara yang sedang dipandunya. Seperti acara formal, semi formal, dan pernikahan. Ketiga hal ini lah yang dibimbing di pelatihan ini.

Mempunyai kemampuan beradaptasi dengan situasi harus benar-benar dimiliki seorang MC serta cerdas dalam menyikapi situasi yang darurat.

Terlebih dalam acara non-formal tambahnya, terkait dengan tradisi tertentu seperti pernikahan misalnya, akan menguras kemampuan seorang MC untuk jeli membangun suasana agar tetap terjaga suasana yang menggembirakan.

Akan berbeda halnya dengan kegiatan hiburan, misalnya pentas dan berbagai atraksi budaya, seorang MC bisa mengikuti alur sesuai dengan mood suasananya.

“Akan beda lagi ketika menjadi MC pada kegiatan resmi seperti acara formal dalam sebuah instansi baik dari pemerintah maupun swasta, norma yang berlaku dalam instansi itu harus benar-benar dipegang dulu agar dalam melaksanakan tugas tidak berbenturan,” jelas Nardi.

Dewan Penasehat (Wanhat) DPW LDII Babel, Alwi berharap pelatihan ini bisa berkesinambungan, dan juga yang telah mengikuti pelatihan ini dapat mengikuti pelatihan pada tahap selanjutnya. ”Sehingga kemampuan yang didapat benar-benar maksimal sehingga akan menjadi MC yang profesional,” imbuhnya.

Penulis: Aqwam Aris

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Terkait