oleh

Kurau, Desa Nelayannya Pulau Bangka

Penulis: Erwin Djali, Kolektor dan Penikmat Buku

Bulan separuh purnama mengambang diatas jari-jari daun kelapa.Sinarnya jatuh dipasir pantai yang putih.Angin selatan menderu dibalik pohon pohon kelapa,menyisakan sepoi-sepoi di desa kurau.Dicakrawala,ada delapan cahaya serupa bintang,sinar lampu perahu nelayan desa kurau menuju pulau ketawai untuk pergi memancing.

Saat melaut di malam hari,para nelayan desa kurau akan kembali ke darat di pagi harinya dengan membawa peruntungan,dengan harapan akan membawa hasil ikan yg banyak.Nelayan desa kurau adalah orang-orang yang sangat optimis,karena nelayan desa kurau berangkat tanpa tahu apakah tempat yang dituju ada ikan yang menunggu,yang nelayan desa kurau tahu adalah pada saat tertentu di daerah tertentu biasanya ada ikan yang menunggu, kadang prediksi tersebut tidak selamanya tepat, tapi nelayan desa kurau tetap berangkat melaut.Nelayan desa kurau optimis bahwa ada rezeki anak istrinya di sana.

Perahu-perahu nelayan desa kurau,satu persatu berlabuh.Bersama-sama,mereka mengangkat perahu berisi tangkapan ikan dari laut.Beberapa nelayan langsung menawarkan ikan-ikan segar itu kepada pembeli.Perahu-perahu nelayan desa kurau disisi kiri dan kanan jembatan yang menghubungkan dua desa di kurau adalah pemandangan yg indah dan khas sekali.

Cerita dari Desa kurau,Bangka Tengah,tak kalah menarik untuk di ceritakan.Desa kurau ini terbelah oleh dua sungai dan terdiri dari dua desa yaitu Desa kurau Barat dan Desa kurau Timur,di desa nelayan kurau ini terdiri dari berbagai macam suku, ada melayu Bangka,bugis,buton dan suku jawa.

Nelayan desa kurau sudah lama ada di pulau Bangka,nelayan desa kurau mempunyai kesadaran yg tinggi untuk menjaga laut,karena bagi mereka laut adalah sumber utama kehidupan,ada kesadaran bahwa jika laut tak di jaga,lalu terjadi kerusakkan ,laut tak lagi memberi kehidupan kepada mereka.

Di saat masyarakat pulau Bangka lagi ramai-ramainya jadi penambang timah,ber’ti mencari timah,para nelayan desa kurau tidak tergoda untuk ber’ti.,mereka tetap konsisten jadi nelayan sejati mencari ikan di tengah lautan,untuk menghidupi anak istrinya, keluarganya,karena itu bagi nelayan desa kurau,laut adalah sumber utama penghidupan mereka.

Desa kurau barat dan desa kurau timur di Bangka Tengah ini,bisa menjadi salah satu destinasi wisata bahari dan wisata hutan mangrove.Potensi desa kurau luarbiasa untuk di kembangkan menjadi desa wisata bahari yaitu hutan mangrove dan pantai ketawainya,bagi masyarakat pulau Bangka sendiri mampu memberikan alternatif liburan lain, yang jaraknya tidak jauh.Bayangkan,untuk menuju pulau ketawai tidak begitu sulit,dari desa kurau hanya satu jam dan kita sudah dapat merasakan indahnya pulau ketawai.

Harapan saya pulau ketawai ini dapat menjadi kawasan sustainable toursism.Dan dapat di gali untuk dioptimalisasi kawasan sebagai destinasi andalan,tanpa mengabaikan ekosistem lautnya dan kondisi masyarakat desa kurau itu sendiri.Saya pun membuktikan pulau ketawai adalah destinasi bahari yang sangat bagus sekali yang tak terlampau jauh dari pusat kota,yaitu kota pangkalpinang.Nah,tunggu apa lagi,kita bermain air laut,menyelami keindahan perairan dangkal dan jangan lupa kenakan topi serta tabir surya.

Selain itu di desa kurau barat ada hutan Mangrove Sungai Munjang yg sangat fenomenal dan eksotis sekali seperti sungai amazone di brasil.Hutan mangrove sungai munjang ini seperti ” little amazone ” yg di jatuhkan oleh tuhan untuk masyarakat nelayan desa Kurau,sangat ramai di kunjungi para wisatawan lokal maupun internasional.Kearifan lokal kalau dikemas dengan baik tentu akan memikat para wisatawan.

Oh ya di desa kurau,ada seorang pemantun hebat yang bernama Kario bin Nawi,tetapi sering di panggil dengan sebutan “Pak Cik Kario ” dan itulah sehari hari orang-orang memanggil namanya.

Pak Cik Kario ini dilahirkan di Desa Kurau,perkampungan nelayan yang sederhana pada 1 Januari 1978. Sebagai keturunan Melayu Bangka,beliau menambah sebutan Pak Cik di depan namanya untuk memperkuat sebagai Melayunya. Sedangkan pemberian nama Kario sesungguhnya diadopsi oleh orang tuanya dari pahlawan Kriopanting yang anti kemapanan dan anti feodalistik,menjadi nama Kario. Kario artinya adalah orang yang berkarya.

Saat ini Pak Cik Kario mengelola pondok pantun yg di beri nama ” Pondok Pantun Pak cik Kario,yang mana pondok pantun ini untuk mengajar anak-anak desa kurau belajar pantun dan bagi siapapun yg mau belajar pantun dan berminat untuk berpantun,semoga dari pondok pantun pak cik kario ini melahirkan generasi-generasi penerus pemantun di BangkaBelitung dan Indonesia.

” Dipotong rata kain katun,
memakai katun dihari rayo.
Mari kita belajar berpantun,
dipondok pantun Pak Cik Kario.”

Pohon kelapa dipinggir laut,
Terlihat indah melambai lambai.
Hati siapa tidak terpaut,
melihat keindahan pulau ketawai.

Pak Cik Kario
Pemantun Melayu Bangka.

Tumis kacang ancok dikirau,
Ambik udang dibuat rampai.
Siapa bilang ancok Kurau,
kampoeng yg indah dibelah sungai.

Pak Cik Kario
Pemantun Melayu Bangka.

Sampan menuju ditepi karang,
Laut biru ombak merata.
Hutan Mangrove sungai munjang,
Elok sungguh dipandang mata.

Pak Cik Kario
Pemantun Melayu Bangka.

” Rindu kampung halaman,rindu para perantau pada kampung halaman,tempat segala sayang ditumpahkan, tempat segala kenangan dicurahkan dan diceritakan.”

“Jika kamu bisa berbuatlah sesuatu,jika tidak bisa lakukan dengan ucapan,jika tidak bisa niatkan dalam hati, maka kamu telah menjadi bagian dari perubahan itu..!

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait