oleh

Seperti Orang Ini, Dengan Hati Seluas Samudra

Penulis: Fahd Pahdepie

Dalam hidup saya, ada orang-orang tertentu yang ketika saya temui, saya bandingkan usia saya dengan usianya. Jika orang itu lebih tua, saya kurangkan usianya dengan usia saya. Angka yang saya dapat dari pengurangan itu adalah waktu yang saya miliki untuk bisa mengejarnya, menyamai pencapaian-pencapaian dan prestasinya, mengikuti hal-hal baik yang menjadi rekam jejaknya.

Jika orang itu berusia lebih muda dari saya, saya kurangkan usia saya dengan usianya. Angka yang saya dapatkan dari pengurangan itu saya jadikan sebagai hutang waktu. Keterlambatan yang harus saya bayar dengan kerja berkali-kali lipat untuk bisa mengejar segala ketertinggalan saya darinya.

Dengan dua cara itulah sampai detik ini saya bertumbuh, terus belajar, dan tak berhenti berkarya. Saya berhutang pada orang-orang hebat yang datang pada hidup saya, menjadi inspirasi dan motivasi saya untuk terus berbuat baik dan membuktikan diri.

Orang-orang itu bukan hanya menjadi contoh, tetapi sekaligus menjadi ‘benchmark’ yang ‘rundown’ hidupnya perlu saya ikuti untuk paling tidak menyamai hal baik yang ada pada dirinya atau bahkan lebih baik lagi.

Di antara orang-orang itu, kali ini izinkan saya menceritakan seseorang. Orang yang saya tulis namanya di jurnal daftar orang-orang yang menginspirasi saya dan perlu saya teladani jejak hidupnya. Saya mengagumi ketulusannya untuk selalu bersedia membantu orang lain. Bahkan kepada orang-orang yang membenci, menghina dan merendahkannya.

Suatu ketika ia bertanya kepada saya, “Fahd, sudah dengar kabar terakhir dari si X?”

Saya mengangguk perlahan. “Sudah.” Jawab saya.

“Fahd, tolong bantu saya untuk cari cara bagaimana agar saya bisa membantunya.”

Saya terdiam beberapa saat. “Bukankah orang itu beberapa waktu lalu baru saja menghina Anda secara terbuka di depan publik? Mengatakan Anda begini dan begitu. Menyebut Anda dengan sebutan-sebutan yang buruk?”

Waktu itu, karena situasi politik yang terbelah. Kita semua tak terhindar dari perpecahan di antara teman karena perbedaan pilihan dan pendapat. Kadang, orang-orang tertentu bertindak berlebihan, menebar serapah dan caci maki di media sosial seolah hidup ini hanya tentang soal pilihan politik saja. Melupakan nilai-nilai berharga lainnya.

Mendengar pertanyaan saya. Ia hanya tersenyum. “Pertemanan itu di atas politik. Politik itu sementara, persahabat kita mungkin selamanya.” Ujarnya.

Saya mengangguk. Tak bisa tak setuju dengan pernyataannya. Jika orang bertanya-tanya bagaimana caranya mendapatkan bantuan, ternyata di dunia ini ada orang yang berfikir keras mencari cara bagaimana agar bisa membantu orang lain? Konsip diri positif semacam ini harus juga ada dalam diri saya. Tak boleh ditawar lagi.

Singkat cerita, si X yang tadi saya ceritakan mendapatkan bantuan dari orang ini. Bantuan itu ternyata tidak sederhana, seluruh biaya pengobatan, rumah sakit, bahkan biaya hidup keluarga serta uang kuliah anak-anaknya yang tak terbayar karena si X sakit di-cover oleh orang ini. Orang yang secara membabi buta dihina di hapadan publik oleh si X tadi.

Tentu cerita ini bukan satu-satunya. Suatu ketika saya pernah menjadi perantara ketika ia membantu seorang teman membeli rumah pertamanya agar rumah itu bisa dicicil setiap bulan tanpa uang muka dan tanpa bunga. Padahal si teman ini mungkin baru beberapa waktu ia kenal, tidak ada hubungan saudara dengannya, dan tidak memberikan jaminan apa-apa. Apa yang sebenarnya ada di pikiran orang ini sehingga bisa membantu sebesar itu, dengan cara seringan itu?

Jika ada teman yang sakit, ia datang dan menawarkan bantuan. Jika ada teman yang kesulitan, ia kumpulkan teman-teman lain untuk sama-sama berdiskusi dan mencari solusi bagaimana agar teman tadi bisa dibantu. Jika ada orang yang merintis usaha, ia dukung dengan membeli barang-barang yang didagangkan atau jasa yang ditawarkan.

Sering saya dikirimi makanan dalam jumlah yang banyak sekali karena orang ini sedang membantu usaha baru teman-teman yang memulai bisnis kuliner. “Fahd, ada rejeki makanan, bantu saya bagikan pada siapa saja yang membutuhkan, ya?” Katanya.

Saya hanya mengangguk. Kadang masih sulit mengerti. Hal apa yang ada di pikiran orang ini untuk bisa membantu orang lain se-ekstrem itu?

Boleh jadi saya menjadi saksi hidup untuk banyak hal besar yang pernah ia kerjakan dalam karirnya. Tetapi bukan semua itu yang membuat saya menaruh rasa hormat yang tinggi kepadanya.

Ia mendapatkan respek saya yang tertinggi karena kesediaannya untuk selalu membantu orang lain, ketulusannya untuk menolong, hal-hal besar yang di luar bayangan saya sebelumnya bahwa bantuan atau pertolongan semacam itu bisa diberikan seseorang kepada orang lain—bahkan ketika orang lain itu memusuhi dan membencinya.

Suatu ketika orang ini membantu teman kami untuk lolos dari hutang-hutang yang melilitnya dan keluarga—bahkan teman ini sudah hampir putus asa dan berkali-kali hendak bunuh diri. Saya menyaksikan betapa orang ini bukan hanya membantu membayarkan hutang-hutang si teman tadi, tetapi sekaligus melunasi rumahnya yang hampir disita oleh bank, memberi modal usaha, dan menyekolahkan anak-anak si teman dengan beasiswa hingga sarjana.

Bagi saya, hal terbesar yang harus saya ikuti darinya bukanlah karena ia merupakan orang yang berhasil dalam karir dan mendapatkan kesuksesannya dalam hal materi. Tetapi karena ia selalu bersedia dengan tulus membantu sesama, bahkan dengan tanpa menghitung-hitungnya. Orang ini memiliki hati yang sangat luas.

Kegemarannya bersedekah, membahagiakan anak-anak yatim hingga memberangkatkan puluhan dari mereka ber-umrah, upayanya membangun masjid untuk orang lain, dan seterusnya adalah hal-hal hebat yang saya kira harus juga ada dalam hidup saya sesegera mungkin.

Hari ini, 4 Januari 2020, orang itu berulang tahun yang ke-57. Saya segera menghitung selisih usianya dengan usia saya. Ternyata, saya punya waktu 24 tahun untuk bisa mengejar hal-hal baik dan luar biasa yang ada pada dirinya. Semoga waktu itu cukup, agar saya bisa mengikuti teladan yang ia berikan, bahkan lebih baik lagi.

Selamat ulang tahun, Pak Denny Januar Ali. Sehat selalu, sukses, berkah dan bahagia. Jangan berhenti menjadi inspirasi untuk kami. Teruslah punya hati seluas samudera.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait