oleh

Pendidikan Lebih Mementingkan Formalitas Daripada Hakikat, Tantangan Membaca di Era Milenial


Karya : Muhammad Ghozali, Mahasiswa Pendidikan Agama Islam IAIN SAS Babel

Swakarya.Com. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat sekarang ini sangat memudah masyarakat memperoleh suatu informasi. Perkembangan tersebut secara tidak langsung menuntut masyarakat untuk mendapat informasi agar tidak ketinggalan zaman. Salah satu cara yang efektif untuk mendapat informasi tersebut yaitu dengan membaca.

Kegiatan membaca saat ini menjadi perbincangan dari berbagai kalangan terkhusus di Indonesia dimana data statistik dari UNESCO, tahun 2015 minat baca masyarakat Indonesia berada diperingkat 62 dari total 65 negara dan indeks baca masyarakat Indonesia 0,001 atau dari 1000 orang hanya 1 orang Indonesia yang suka membaca.
Tentu saja ini menjadi PR besar bagi tenaga kependidikan, orang tua, pemerintah, pegiat literasi dan sebagainya untuk mencapai tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa di samping pesatnya kemajuan teknologi. Kita sadari betapa rendahnya minat baca buku di era globalisasi ini, terkhususnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Dimana pada tahun 2016 lalu, Asisten Setda Babel Bidang pemerintahan dan Kesra, Ammrullah Harun mengungkapkan berdasarkan fakta menunjukkan minat baca di Provinsi Bangka Belitung masih rendah, untuk itu menurutnya perlu adanya keterlibatan antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah agar anak gemar membaca.

Membaca merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjadi kebutuhan pokok yang harus dilakukan oleh seseorang, komunitas, daerah dan bangsa apabila ingin mengubah dirinya ke yang lebih baik.

Selain itu, Membaca adalah salah satu cara untuk mendapatkan pengetahuan, informasi, dan membuka wawasan dari apa yang dibaca.
Sekarang ini sumber informasi dalam bentuk tertulis semakin banyak sehingga terlihat kemanfaatan membaca. dimanapun dan kapanpun kini dengan mudah mendapatkan informasi mulai dari bahan bacaan dalam bentuk digital maupun fisik buku yang bermacam-macam jenis buku pengetahuan, dongen, motivasi, novel, dan sebagainya. Namun, walaupun di era serba digital, buku dengan sangat gampang di download, tetapi nyatanya hal tersebut tak meningkatkan ketertarikan baca masyarakat.

Karena pesatnya pertumbuhan medsos dan game-game terbaru selalu memanjakan penggunanya sehingga konsentrasi mudah terganggu bahkan terkikis. Kata-kata seperti “membaca maka kamu akan mengenal dunia” “buku adalah jendela dunia”,  dan sebagainya tak asing lagi terdengar ditelinga para generasi muda, namun kini hanya menjadi sebuah angin lewat dan hal itu tak mengubah atau meningkatnya minat baca masyarakat, terlihat dari susunan buku di perpustakaan maupun taman baca yang tak berubah posisinya dengan dihiasi debu-debu diatasnya dan ketidakaktifan perpustakaan desa-desa maupun taman baca.

Memang tidak ada sangsi yang diterima bagi masyarakat yang tidak membaca, akan tetapi salah satu dampak yang akan dialami seseorang yang tidak suka membaca adalah akan tertinggal dari peradaban zaman.

Selain pesatnya perkembangan teknologi, sekarang ini dunia pendidikan umumnya lebih mementingkan formalitas daripada hakikat, seringkali kualitas suatu lembaga pendidikan hanya ditentukan tingkat dan kualitas kelulusan peserta didik, sehingga anak yang terbilang belum bisa membaca atau terbata-bata dinaikkan dan diluluskan begitu saja yang berakibat ketika anak itu berada pada jenjang selanjutnya, oleh karena itu seharusnya kualitas lembaga pendidikan juga harus diukur dari seberapa jauh tingkat minat baca para peserta didiknya.

Terutama siswa sekolah dasar, hal ini diketahui dari hasil penelitian Internasional Education Achiecment menyebutkan bahwa kemampuan baca siswa sekolah dasar  di Indonseia berada pada urutan 38 dari 39 negara. Oleh karena itu, kebiasaan membaca sebaiknya ditanamkan dari sejak dini. Apalagi bagi anak yang beranjak usia sekolah dasar karena masa-masa inilah merupakan waktu yang baik untuk membiasakan membaca dan mengenalkan anak pada buku.

Menilik paparan diatas bahwa minat baca dapat diminimalisir, pertama menumbuh kebiasaan yang dimulai dari keluarga karena minat baca memiliki pengaruh yang besar terhadap kebiasaan membaca. Karena apabila seseorang membaca tanpa mempunyai minat baca yang tinggi maka seorang tersebut tidak akan membaca dengan sepenuh hati.

Oleh karena itu apabila seseorang telah membaca sepenuh hati dengan kemauan sendiri dilakukan dengan terus menerus maka akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari orang tua sebagai pendidik pertama untuk menanamkan benih-benih membaca buku dengan mengajarkan anak-anak untuk mengenal dan menyukai buku dari sejak dini.

Kedua, menciptakan dan mengembangkan ruang pojok baca setiap rumah, kelas, sekolah maupun tempat umum serta dilingkungan sekitar tempat beraktivitas. seperti dikatakan Marcus Tullius Cicero seorang orator dan penulis “A room without books is like a body without a soul”.

Ketiga, membuat suatu program dimana pemerintah dan masyarakat saling melibatkan misalnya menyebar satu rumah sepuluh buku yang dilakukan secara bergiliran dari rumah ke rumah atau dari RT ke RT dan sebagainya.
Keempat, guru dari jenjang satu ke jenjang lain harus saling bersinergi dan saling memberi informasi walaupun anak tersebut telah lulus dari sekolah.

Selain itu guru harus mengamati siswanya membaca ketika proses pembelajaran berlangsung serta para guru wajib dibekali metode mengajar yang menarik agar semangat membaca peserta didik tetap bertahan.

Kelima, peran pemerintah sangat diperlukan untuk memberikan subsidi buku, terutama buku-buku pelajaran yang sangat dibutuhkan oleh generasi muda. Hal tersebut akan lebih baik lagi jika pemerintah memberikan anggaran khusus untuk perpustakaan.

Keenam, perpustakaan menyediakan buku-buku terbaru dan pelayanan peminjaman yang tidak merepotkan pengunjung, maka dengan adanya perpustakaan yang memberi pelayanan nyaman dan fasilitas yang memadai agar masyarakat tidak mudah bosan serta  akan lebih efisien bagi mereka yang memliki dana minim untuk membeli buku.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait