Penulis : Sabihis, S.Sos, Anggota JPPR dan Ketua Kosada Cabang Bangka Selatan
Swakarya.Com. Setelah Pemilu usai dalam pemilihan Presiden Republik Indonesia (RI) dan pemilihan anggota legislatif dari mulai DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi, DDP RI Dan DPR RI pada tahun 2019 hingga sudah menemukan pemimpin yang layak menyongsong kemajuan Indonesia telah bertugas dan kali ini kita akan disibukkan kembali dengan pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak di Indonesia pada tahun 2020.
Namun, penulis lebih menyoroti pada pemilu kepala daerah di Kabupaten, khususnya di Bangka Selatan. Sebelum jauh kesana penulis mengajak menyatukan pemahaman satu sama lain bahwa Pemilu adalah sistem memilihan pemimpin dengan proses demokrasi yang memiliki jargon dari rakyat oleh rakyat, dan untuk rakyat. Rakyat adalah penentu siapa yang akan memimpin suatu negara atau daerah-nya.
Sedikit mengingatkan kejadian yang masih terbesit dalam pikiran kita dan menjadi sejarah Demokrasi di Indonesia. Ini dia, kilas balik dari kaca mata historis Pemilu serentak pada 12 April 2019 lalu secara proses banyak sekali yang harus dievaluasi mulai dari indikasi adanya kecurangan menyebabkan terjadinya aksi protes oleh massa yang tergabung dalam gerakan kedaulan rakyat didepan kantor Badan Pengawas Pemilu Republik Indonesia (BAWASLU RI) Jakarta Pusat 22 mei 2019 lalu, hingga jatuhnya korban.
Hal ini terjadi karna adanya ketidakpuasan sebagian rakyat kepada pelayan aspirasi rakyat dalam hal ini penyelenggara dan pemantau pemilu.
Disisi lain kisah pilu pemilu serentak 12 April 2019 jatuhnya korban sebagaimana yang dikutif dari Tirto.id media 23 orang Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia diantaranya ada yang kecelakan juga ada yang kelelahan dengan berbagai motif menjadi tumbal demokrasi.
Kalau dinilai secara etis Pemilu yang bermartabat haruslah mengedepankan nilai-nilai normatif baik itu dipihak penyelenggara, pemantau, pendukung, partai politik maupun peserta pemilu itu sendiri, karena proses yang bermartabat mencerminkan hasil yang bermartabat pula, dan kembali ke jargon demokrasi dari rakyat oleh rakyat, dan untuk rakyat bukan sebaliknya mengorbankan rakyat.
Untuk itu, beberapa catatan pilu pemilu serentak 14 April 2019 lalu, bukan berarti rakyat harus menutup mata dari politik melainkan rakyat harus membuka mata selebar-lebarnya karena politik adalah unsur yang sangat penting karena yang mengatur harga bahan pokok, BBM, dll, ialah melalui politik.
Dari pada itu, Kabupaten Bangka Selatan pada tanggal 23 September 2020 mendatang akan melaksanakan Pilkada Bupati dan wakil Bupati. Dengan begitu Kabupaten Bangka Selatan butuh pemimpin yang mampu membawa rakyat Bangka Selatan kejatidiri Bangka Selatan, pasalnya basel pernah berjaya karna (muntok White pepper) lada putih atau bahasa sehari-hari disebut sahang, dengan sahang murah maka akan mempengaruhi aktivitas jual belipun lesu.
Sejatinya muntok white pepper sudah sejak zaman kolenial belanda diperjual belikan, alasan inilah yang membuat komoditi muntok white pepper sudah menjadi salah satu bagian penting bagi rakyat Bangka Selatan secara khusus, Bangka Belitung secara umumnya.
Harapannya siapapun yang nanti menjadi pemimpin bangka selatan bisa memperjuangkan komoditi lada putih, yang menjadi tulang punggung perekonomian di Bangka Selatan.
Mengingat Kabupaten Bangka Selatan baru saja memperingati hari jadi kabupaten yang ke-17 tahun. Di usia yang sangat muda bahkan dalam skala umur manusia dapat dikata pada usia remaja.
Pada perkembangan kabupaten yang masih muda ini mesti ada campur tangan kaum milenial dalam memajukannya, karena berdasarkan pengamatan saya generasi Milenial lah yang memiliki peran hari ini sebab Kabupaten Bangka Selatan pada Pilkada nanti, pastinya akan ditentukan oleh pemilih milenial.
Oleh karenanya, generasi milenial harus mampu menjadi garda terdepan membawa Bangka Selatan yang berkemajuan dan sejahtera dalam pemerintahan yang akan datang.