oleh

Sisilain Orang Tua Pada Anaknya


Penulis: Kartika Chandra Anastya- Ketua PIK R Desa Pedindang

Aku tidak suka.
Aku tidak suka saat mama membanding-bandingkan aku dengan anak orang lain.

Anak tetangga itu rajin, disetiap kali aku lupa mencuci piring.

Anak temen arisan mama jagoan kelas, disetiap kali aku mendapatkan nilai yang buruk.


Anak saudara mama penurut, disetiap kali aku mencoba memberi argumen sepeleku.
Ketika mama menuntutku harus seperti mereka dengan segala perbandingan yang mama katakan, aku merasa sangat kecil dan payah.

Aku bisa berusaha mah seperti yang mama mau, tapi jika kalimat negatif terus yang aku dengar maka yang ada mama itu membunuh rasa percaya diriku.


Aku selalu bertanya-tanya, apakah aku seburuk itu hingga selalu dibandingkan? Langkahku menjadi sangat berati-hati mah dan aku tumbuh menjadi seorang pengecut.

Aku tidak suka.
Aku tidak suka saat kakak memarahiku tanpa bertanya dulu duduk perkara yang ada.
Kenapa aku tidak diberikan kesempatan untuk berbicara?
Kenapa kakak langsung benar sendiri?
Kenapa aku selalu terlihat salah?
Aku memukul temanku karena dia mengejek mama dan dia memukulku terlebih dahulu. Aku pulang telat bukan karena keluyuran tapi karena aku latihan pramuka.

Kemarin bekalku tidak habis karena aku tak sanggup makan lagi, aku sakit perut. Kakak tidak mau mendengarkan penjelasanku dan langsung menyambutku dengan nada tinggi.
Aku jadi bisu kak di kelas.

Kadang aku juga suka marah ke teman-teman di TPA karena semua contoh yang kakak berikan. Aku juga bingung, bagaimana caraku membela diri jika ada orang yang memfitnahku. Kakak, jiaku menjadi sangat kaku, keras, karena memendam fakta yang ku sembunyikan.

Aku tidak suka.
Aku tidak suka saat aku salah bapak langsung mencubitku.
Apakah tidak ada pemakluman untuk anak kecil?
Apakah orang tua sangat berkuasa pada tubuh anaknya?
Apakah dengan memukul maka dapat menyelesaikan masalah?


Sebenarnya, saat aku menumpahkan kopi bapak, waktu aku memecahkan jam tangan bapak, dan ketika aku tidak mematikan keran air, itu semua karena aku tidak sengaja dan lupa pak. Tapi bapak langsung menerkamku dengan segala jurus cubitan yang membuat kulitku lebam ungu.

Aku bingung untuk mengadu pun aku tak suka hanya karena aku bapak dan mama harsu bertengkar. Beberapa niatan buruk sering mampir di kepalaku, nanti ketika aku berbuat salah lebih baik aku kabur dari rumah saja, lari saja yang jauh dari bapak.

Narasi di atas merupakan sedikit contoh bentuk ketidaksukaan anak-anak terhadap orang yang mendidiknya. Apakah anak Anda mempunyai pemikiran seperti contoh itu?

Mungkinkah ada persamaan bagaimana perilaku dan sikap anda dalam mendidik anak Anda? Lihat bagaimana perkembangan anak Anda, mari jawab tanpa gengsi jika dirasa telah melakukan hal diskriminatif dan bertanggungjawablah karena orang tua melalui tindakan dan contoh mempengaruhi anak laki-laki dan perempuan untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma moral yang ada dalam lingkungan budayanya (Sears, David O., Freedman, Jonathan L. 1994 : 40)

Perlu untuk diketahui bahwa anak-anak juga memiliki emosi, emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak (Santrock, 2011: 25).

Menurut Campbell (1993 dalam Chesney, 2004), rasa marah pada anak perempuan disertai emosi-emosi seperti rasa takut, cemas, merasa bersalah dan rasa malu; sedangkan rasa marah pada anak laki-laki ditandai dengan amukan atau menentang nilai-nilai di lingkungan sosialnya.

Memiliki emosi baik bagi kesehatan mental, karena dengan adanya emosi menunjukan fakta bahwa manusia masih memiliki perasaan, namun tetap dalam porsi emosi yang aman.

Marah, menangis, bahagia, kecewa dan perasaan yang lain perlu diekspresikan dalam hidup. Emosi anak yang unik inilah yang harus orang tua respon dalam bungkus sebaik-baiknya.

Banyak orang tua yang menginginkan anaknya tumbuh sukses. Namun di manakah titik awal seseorang menemukan kekuatan perasaan, pikiran, daya guna yang luar biasa itu dalam menjemput sukses? Tentu jawabannya adalah keluarga.

Keluarga merupakan lokasi pertama pembangunan keberhasilan dalam kehidupan. Seseorang yang berhasil dalam suatu hal tentu tak luput dari peran lingkungan keluarganya. Maka dalam rangka menjemput kesuksesan itu, pondasinya berada di orang tua bukan?

Hal yang harus diperhatikan saat mendidik anak adalah orang tua sebisa mungkin harus menghindari memanggil dan melabeli anak dengan kata yang buruk.

Karena apa yang anak dengar, lihat, dan rasakan akan membentuk pola pikir, kepribadian dan perilakunya. Berkomunikasilah dengan baik bersama anak, dengarkan perkataannya dan berikan sugesti yang membuat dia semangat.

Jika Anda sebagai orang tua hanya menyebarkan negativitas, maka Anda patut untuk bertanya pada diri Anda sendiri, “Sudah siapkah saya menjadi orang tua?” dan seharusnya pertanyaan itu Anda pikirkan jawabannya sebelum memutuskan untuk menikah.

Sekarang terlambat untuk menyadari keterlambatan, sekarang yang Anda perlukan adalah berlatih untuk memiliki kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional yang tinggi. Cetaklah anak Anda menjadi generasi yang handal, sadar dengan bakat yang dimiliki, meyebarkan energi positif, pandai bergaul, senang membantu, dan pandai bersyukur.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait