oleh

Sebuah Eksperimen “Poetry-Film” dan Eksplorasinya

*Resensi Film Tentang Kisah Cinta yang Terselip di “400 Kamis Seberang Istana” (Karya: Denny JA).

Penulis: Satrio Arismunandar, blogger, praktisi media, dan alumnus S3 Filsafat FIB UI.

Swakarya.Com. Bagi seorang seniman, film, lukisan, cerpen, novel, puisi, dan musik adalah media untuk mengekspresikan diri. Tetapi kadang kala, satu media tunggal dianggap belum cukup. Lalu bagaimana jika beberapa media ini digabungkan menjadi satu, untuk menghasilkan cara ekspresi yang berbeda?

Menonton film “Kisah Cinta yang Terselip di 400 Kamis Seberang Istana” karya Denny JA adalah menonton karya kombinasi semacam itu. Film sepanjang 48 menit ini merupakan perluasan audio-visual dari puisi esai Denny.

Selama ini Denny lebih dikenal sebagai perintis survei politik di Indonesia. Mantan aktivis mahasiswa ini juga sukses sebagai wirausahawan, dan kemudian banyak berkreasi di dunia sastra lewat puisi esainya.

Puisi esai yang diperkenalkan Denny sempat mendapat reaksi pro-kontra yang riuh di komunitas sastra.

Sejumlah aksi protes bahkan digelar untuk mengecam Denny. Di sisi lain, penulisan puisi esai meluas ke Asia Tenggara. Namun, saya tidak ingin berpanjang lebar membahas hal itu, karena fokus tulisan ini adalah mengulas film.


Film ini berkisah tentang Lina, seorang ibu muda beranak satu, yang suaminya “hilang” dalam kerusuhan 1998 di Jakarta. Meskipun patut diduga suaminya sudah tewas entah di mana, Lina yang setia terus bertahan, dengan harapan bahwa suatu saat suaminya akan kembali.

Di era Orde Baru, kasus orang hilang (atau “dihilangkan”) karena terkait urusan politik, bukanlah hal baru. Kasus orang hilang berkelindan dengan kasus-kasus pelanggaran HAM yang marak pada waktu itu.

Banyak keluarga yang masih berjuang mencari keadilan, seperti para ibu yang kehilangan anaknya dan setiap hari Kamis mengadakan aksi di depan istana Presiden.

Setiap Kamis, di depan Istana Presiden, orang–orang berkumpul mengenakan pakaian serba hitam dan membawa payung hitam. Mereka menuntut keadilan bagi para korban kasus–kasus pelanggaran HAM, baik yang sudah terungkap maupun belum, hingga sekarang.

Gerakan ini diberi nama Aksi Kamisan, dan sudah berlangsung sejak 18 Januari 2007. Salah satu pesertanya adalah ibu Sumarsih, yang anaknya hilang pada tragedi Mei 1998, dan tak ada kabar maupun kejelasan hingga sekarang mengenai keberadaan anaknya ini.

Karya Denny tampaknya diilhami oleh kasus-kasus tersebut.
Dalam film ini, ayah Lina adalah seorang pelukis yang sempat dituduh sebagai anggota PKI, dan dipenjara di Pulau Buru.

Masa muda Lina penuh derita, karena dicap “tidak bersih lingkungan” sebagai anak tahanan politik, sehingga tak ada pria yang berani mendekatinya. Hanya Kangmas, yang kemudian menjadi suami Lina, yang mencintai dan sangat dicintainya.

Namun, Kangmas yang aktivis meninggalkan Yogyakarta menuju Jakarta, menjelang kerusuhan Mei 1998. Lina sempat melarang, tetapi suaminya bersikeras. Itulah titik perpisahan Lina dengan suaminya.

Sekian lama Lina tinggal bersama anaknya Rambu, menanti kepulangan Kangmas-nya yang tak pernah kembali. Hanya Anwar, sahabat suaminya, yang sering membantu dan berempati. Dengan bantuan Anwar, Lina akhirnya bisa menjual rumahnya di Yogya dan pindah ke Jakarta.

Di Jakarta, Lina menafkahi hidupnya dan Rambu dengan berjualan kecil-kecilan. Ia bertemu dengan Shinta, seorang aktivis HAM. Bersimpati pada Lina, Shinta lalu mengajak Lina bergabung dalam Aksi Kamisan di depan Istana Presiden.

Lina pun hadir di setiap Aksi Kamisan. Keteguhan dan kesetiaan Lina sempat menarik perhatian seorang wartawan muda, Radi, yang meliput Aksi Kamisan. Radi kemudian jatuh hati pada Lina.

Namun, trauma Lina tidak memudahkan baginya untuk membuka hati buat laki-laki lain.


Dari film ini, saya menilai Denny tampaknya sedang bereksperimen. Eksperimen pertamanya adalah puisi esai. Berbeda dengan puisi biasa, puisi esai menggunakan catatan kaki, untuk menunjukkan bahwa meskipun itu merupakan karya fiksi, ia memiliki basis dan landasan nyata dalam realitas sosial.

Puisi esai ini cocok untuk menjadi sarana melontarkan kritik sosial, dan sebagian besar puisi esai memang bertema seperti itu.

Eksperimen Denny tidak berhenti sampai di situ. Puisi esai ini kemudian juga muncul dalam versi yang mengeksplorasi aspek visual. Yakni, dengan gambar-gambar statis, meskipun bukan berformat seperti buku komik.

Dalam versi ini, ilustrator atau pelukis diberi kebebasan untuk memperkaya puisi dengan kreasi visualnya.

Terakhir, puisi esai yang sudah dilengkapi gambar-gambar statis itu kemudian ditambah lagi dengan gambar-gambar dinamis, menjadi suatu produk audio-visual yang baru. Yakni, sebuah film. Walaupun bukan film konvensional, karena warna puisinya sangat kuat.

Di sepanjang film ini, kita bisa mendengar narasi puisi dan kutipan syair karya Denny.

Kombinasi film dan puisi adalah hal yang menarik. Untuk penyair, mungkin ada harapan bahwa pembuat film akan membawa sesuatu ke puisi: penonton baru, daya tarik visual, peletakan penanda jalan. Sedangkan bagi pembuat film, ada parameter tetap untuk ditanggapi, ada nada kekuatan teks yang memicu imajinasi dengan koneksi visual dan metafora.

Puisi telah dipandang sebagai sumber berlimpah untuk proses kreatif dari sisi liris praktik film eksperimental. Yakni, sejak pembuat film dan kritikus mulai berteori tentang konsep-konsep film. Banyak pembuat film melihat film sebagai seni independen.

Mereka sering kali berupaya meyakinkan bahwa film hanya bisa menjadi bentuk seni, jika ia berjuang untuk bekerja dalam bahasanya sendiri.

Namun, kemudian ada kombinasi gambar dan teks, yang membentuk apa yang oleh penulis William Wees disebut sebagai “Puisi-film.”

Dalam esainya “The Poetry Film” (1984), Wees menyatakan: “Sejumlah pembuat film dan video garda depan telah menciptakan sintesis puisi dan film yang menghasilkan asosiasi, konotasi, dan metafora, yang tidak bisa dihasilkan oleh teks verbal maupun teks visual sendiri.”

Menguraikan saling ketergantungan ini, Wees berpendapat, pembuatan film puisi memperluas denotasi kata-kata tertentu dan referensi ikon gambar yang terbatas, untuk menghasilkan konotasi, asosiasi, dan metafora yang jauh lebih luas.

Pada saat yang sama, ia membatasi kemungkinan-kemungkinan makna yang tak terbatas dalam kata-kata dan gambar, dan mengarahkan respons kita terhadap pengalaman yang bisa dikomunikasikan secara konkret.


Pembuatan film puisi termasuk dalam kategori berikut:

Pertama, penggunaan sederhana dari teks grafik sebuah puisi, baik sebagian atau seluruhnya, tanpa gerakan visual atau film. Ini merupakan pembuatan film secara literal dari suatu teks.

Kedua, penggunaan sederhana dari teks grafik dari sebuah puisi, baik sebagian atau seluruhnya, yang dikerjakan dengan gerakan visual, baik animasi ataupun elemen-elemen film alami. Ini adalah sebuah film visual dari teks dan audio. Misalnya, video “Subterranean Homesick Blues” oleh Bob Dylan.

Ketiga, pertunjukan oleh penyair atau lainnya, dari puisi dalam konteks panggung dan penonton. Ini adalah sebuah film tentang seorang penyair di tempat kerja.

Keempat, pembacaan puisi secara lengkap oleh penyair atau yang lain, atas film yang mencoba untuk menggabungkan puisi dengan unsur visual dan audio. Pada dasarnya ini adalah perwujudan dari konsep Poery-film William Wees.

Menurut pengamatan saya, karya Denny –meskipun tidak persis sama—tampaknya masuk ke kategori kedua. Saya tidak tahu apakah Denny sejak awal memang bermaksud ke arah itu. Atau mungkin ini juga sebuah karya perantara, untuk Denny kemudian bereksperimen atau mengeksplorasi kategori lain dari film puisi.

Kalau ada yang bisa dikritik dari film ini, itu adalah tidak adanya credit title, yang sepatutnya ditayangkan di bagian akhir film. Karena penonton film tentunya ingin tahu, siapa saja artis yang bermain, juru kamera mana yang mengambil gambar, dan penyair mana yang membacakan puisi Denny di sepanjang film ini.

Apapun niat Denny dan kekurangan film ini, saya memberi apresiasi dalam dua hal. Pertama, dari segi keberaniannya bereksperimen dan mengeksplorasi. Dan kedua, dari pilihan tema kontennya, yang melakukan kritik sosial.

Dalam hal ini, Denny telah ikut mengangkat kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia, yang banyak di antaranya belum dituntaskan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait