by

Rayakan Hari Jadi ke-11 FISIP UBB, Dekan Ingatkan Pentingnya Membumikan Budaya dan Adat Melayu


Bangka, Swakarya.Com. Kampus sejatinya tidak hanya bertujuan mencetak manusia yang mahir memproduksi dan berbicara ilmu pengetahuan (sains), tapi juga bertanggung jawab meng-creat manusia yang bermoral, paham budaya, serta adat istiadat masyarakat di mana ia hidup.

Dalam bahasa yang berbeda, kampus memiliki tanggung jawab menjadikan mahasiswa dan alumninya memiliki karakteristik yang sarat dengan kebijaksanaan, bukan semata-mata pintar secara kognitif atau memiliki skill praktis yang mumpuni.

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Bangka Belitung (UBB), menurut Dr. Aimie Sulaiman, M.A. selaku Dekan, harus intens dan konsisten memberikan kontribusi untuk melahirkan manusia berkarateristik dengan moralitas yang tinggi, beradat, dan berbudaya. Tentunya dalam konteks Bangka Belitung, menurut Aimie Sulaeman, budaya dan adat istiadat melayu harus menjadi ciri khas dan pondasi utamanya.

Oleh karenanya, pada perayaan Dies Natalis ke-11 FISIP UBB tahun ini mengangkat tema “Adat Mengatur, Budaya Dijunjung”.

“Motto kampus UBB adalah unggul membangun peradaban. Menurut saya, peradaban itu dimulai dari 3 hal sederhana, yakni bagaimana kita membentuk dan membangun apa yang dinamakan dengan etika, moral, dan adab. 3 hal ini harus muncul dalam karakteristik setiap individu yang ada di UBB ini, khususnya di FISIP,” ungkap Aimie Sulaiman pada saat memberi sambutan di acara Launching Kegiatan Dies Natalis FISIP UBB ke-11, Rabu (13/07/22).

“Diharapkan sivitas akademika di UBB, punya sikap atau karakteristik khas tersendiri. Memiliki karakteristik tersendiri itu bagaimana? Ya ke-melayu-an. Yang perlu dipahami, kalau kita berbicara etnisitas, kita tidak hanya berbicara Melayu Bangka, tapi juga ada Tionghoa Bangka. Secara etnis, di Bangka Belitung memang dominannya terdiri dari dua etnis tersebut. Tetapi kita berbicara melayu di sini, kita harus berbicara konsep ‘urang melayu’ yang bisa dikatakan merepresentasi kedua etnis tersebut”, tambahnya.

Selanjutnya, menurut Dekan yang juga dikenal sebagai Sosiolog Bangka Belitung ini, bahwa adat istiadat, budaya atau kearifan lokal itu harus dimunculkan melalui lembaga ini— melalui Universitas Bangka Belitung ini— melalui fakultas ini.

“Ke-Melayu-an harus menjadi identitas budaya kita. Budaya “malu” dan budaya “tau bales budi”, adalah dua karakteristik yang kerap melekat pada ‘urang melayu’,” tukas Aimie.

Baginya, ini penting untuk bisa diwariskan ke para generasi muda yang ada di kampus. Tentu, institusi dalam hal ini bertanggung jawab menerjemahkan dua karakteristik itu dalam bahasa-bahasa yang bisa dipahami para generasi Millnials dan Z, sebagai generasi dominan penghuni kampus saat ini.

Ada Kegiatan FISIP Ekspresif, Orasi Ilmiah, dan Lomba Masakan Khas Bangka
Perayaan Dies Natalis FISIB UBB tahun ini diisi dengan tiga kegiatan utama, yakni FISIP Ekspresif, Orasi Ilmiah dengan tema “Peran Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Mempertahankan Budaya Melayu di Era Globalisasi”, serta Memasak Masakan Khas Bangka.

Kegiatan akan dilangsungkan selama dua hari secara berturut, yakni Rabu (13/07/22) dan Kamis (14/07/22).

Di hari pertama, yakni setelah proses launching kegiatan digelar, Gedung Babel 1 FISIP UBB langsung dimeriahkan dengan kegiatan FISIP Ekspresif yang diikuti oleh beberapa Dosen, Mahasiswa, dan Tenaga Kependidikan di lingkungan FISIP UBB. Mereka dibebaskan berekspresi sesuai talenta yang dimiliki. Ada yang menyanyi, baca puisi, orasi, menari khas melayu, dan drama.

Tidak hanya itu, lomba memasak masakan khas Bangka pun dihelat di hari yang sama, dengan konsep masak secara berkelompok di rumah masing-masing, dibuatkan video, lalu masakannya dihidangkan di kampus untuk dicicip juri dan diakhiri dengan makan bersama.

Pada kegiatan launching dan juga makan bersama masakan khas Bangka ini dihadiri secara langsung juga oleh Rektor sekaligus Dosen Ilmu Politik UBB, Dr. Ibrahim, M.Si.

Pada hari Kamis (14/07/22), rangkaian kegiatan Dies Natalis FISIP UBB ke-11 akan diakhiri dengan Orasi Ilmiah yang menghadirkan Narasumber Drs. Akhmad Elvian (Budayawan sekaligus Sejarawan Bangka Belitung) dan Prof. Bustami Rahman, M.Sc. (Guru Besar Sosiologi UBB).

2 tokoh besar Bangka Belitung ini akan fokus berbicara tentang Kearifan Lokal dan Ke-Melayuan dalam konteks era Globalisasi, yang akan disaksikan Sivitas Akademika FISIP UBB, Alumni, dan para pimpinan di lingkungan UBB.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Terkait