oleh

Pentingnya Kesadaran Setiap Individu untuk Cegah Penyebaran Covid-19

Oleh : Deasy Rahmiyana / Mahasiswa Universitas Bangka Belitung

Pandemi Covid-19 sampai saat ini telah menyebar hampir seluruh negara di dunia, termasuk negara kita tercinta Indonesia. Virus Corona ini awalnya berasal dari Wuhan, China yang memang penularannya sangat cepat menyebar ke berbagai negara di dunia.

Penyebaran virus ini pun sulit untuk dikenali, karena virus ini baru dapat dikenali sekitar 14 hari. Namun, orang yang telah terpapar dengan virus ini akan memiliki gejala seperti demam tinggi di atas suhu normal manusia atau di atas suhu 38 derajat Celsius, gangguan pernafasan seperti batuk, sesak nafas, gangguan tenggorokan, pilek. Apabila gejala tersebut sudah dirasakan, maka perlu adanya karantina mandiri (self quarantine).

Berdasarkan data resmi dari website https://covid19.go.id/ update terakhir per 21 Juli 2020, secara Global dengan jumlah 216 negara terkonfirmasi positif Corona mencapai 14.538.094 jiwa dan meninggal mencapai 607.358 jiwa.

Sementara di Indonesia, terkonfirmasi positif Corona sebanyak 89.869 jiwa, sembuh sebanyak 48.466 jiwa, dan meninggal sebanyak 4.320 jiwa. Bagi Indonesia, ini menjadi tantangan multidimensi. Pemerintah dan masyarakat dihadapkan pada berbagai keputusan yang sulit baik itu di sektor ekonomi, sosial, politik, maupun kesehatan.

Khusus di bidang pendidikan, Kementerian Pendidikan di Indonesia juga mengeluarkan kebijakan yaitu dengan meliburkan sekolah atau kuliah dan mengganti proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menggunakan sistem dalam jaringan (daring). Dengan diterapkannya pembelajaran via daring ini, jelas harus menggunakan teknologi sebagai alat utama mulai dari peserta didik tingkat Sekolah Dasar hingga Perguruan Tinggi.

Terkadang muncul berbagai masalah yang dihadapi oleh siswa dan guru, seperti materi pelajaran yang belum selesai disampaikan oleh guru/dosen kemudian menggantinya dengan diberikan tugas. Hal tersebut akan menjadi keluhan bagi siswa/mahasiswa karena tugas yang diberikan guru/ dosen bertambah jadi lebih banyak.

Permasalahan lain juga adalah adanya akses informasi yang terkendala oleh sinyal yang menyebabkan lambatnya dalam mengakses informasi. Mahasiswa terkadang tertinggal dengan informasi yang diberikan oleh guru/dosen akibat dari sinyal yang kurang memadai, akibatnya terlambat dalam mengumpulkan tugas.

Lalu bagaimana dengan daerah pelosok yang akses transfortasinya saja belum memadai, apalagi masalah teknologi berbasis daring yang tentunya berhubungan dengan sinyal dan kuota?

Belum lagi ditambah dengan kondisi keuangan yang semakin menurun seperti dengan adanya pekerja yang terkena PHK, dirumahkan, bahkan tetap bekerja tetapi gaji yang diterima dibayar setengah dari gaji biasanya, yang mungkin untuk biaya makannya saja kurang apalagi harus membeli kuota internet secara rutin untuk pembelajaran daring.

Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap himbauan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 merupakan salah satu faktor sulitnya penanganan Covid-19. Sebagian masyarakat lebih mementingkan egonya masing-masing ketimbang dengan resiko yang mungkin terjadi di tengah pandemi Covid-19 ini.

Padahal kesadaran dan kepedulian masyarakatlah yang bisa menjadi pondasi utama untuk memutuskan mata rantai virus corona. Walaupun terdapat berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk masyarakat agar melakukan physical distancing untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona seperti menggunakan masker setiap keluar rumah, membawa handsanitizer, selalu mencuci tangan setiap selesai beraktifitas, menjaga jarak minimal 1 meter, tidak berkumpul dalam jumlah yang banyak, menghindari pertemuan yang berhubungan dengan banyak orang, tetap di rumah saja jika tidak ada keperluan yang mendesak, menerapkan pola hidup yang sehat dan bersih, serta bekerja dan belajar dari rumah yang tentunya menggunakan via daring (online).

Namun nyatanya kebijakan tersebut masih belum mampu menyelesaikan permasalahan gejolak pandemi Covid-19 ini. Apapun kebijakan yang dilakukan, entah itu PSBB atau social distancing atau apapun itu lainnya, jika masyarakat tidak disiplin dan tidak memiliki kesadaran yang tinggi, maka itu tidak akan pernah berhasil.

Seperti yang kita lihat, masih banyak “oknum” masyarakat yang belum mematuhi protokol kesehatan yang diimbau seperti tidak menggunakan masker saat keluar keluar rumah, tidak mempunyai handsanitizer sendiri, suka berkerumunan, keluar rumah padahal tidak ada hal yang mendesak hanya jalan-jalan saja, bahkan juga masih ada yang menyepelekan pentingnya untuk selalu mencuci tangan padahal tangan merupakan salah satu cara umum penyebaran virus dari satu orang ke orang lain.

Jika kebijakan dari Pemerintah tersebut dipatuhi dengan baik maka akan berguna untuk kesehatan diri sendiri serta bisa mencegah penularan virus corona ini. Sebagai masyarakat, kita merupakan garda terdepan yang harus menghadapi virus corona ini. Tenaga medis dan para ahli kesehatan lainnya merupakan garda terakhir dalam menghadapi virus ini.

Kesadaran diri sendiri sangatlah penting seperti keadaan sekarang dengan menjaga diri dengan mematuhi protokol kesehatan seperti tetap di rumah jika tidak ada keperluan yang mendesak, selalu memakai masker saat keluar rumah, rajin-rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, jangan suka berkerumunan, dan melakukan anjuran yang diperintahkan dari pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus corona ini.

Jangan hanya para tenaga medis dan para ahli kesehatan saja yang ikut berperan dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, kita juga sebagai masyarakat harus ikut berperan aktif dalam menghadapi pandemi ini hanya dengan mematuhi imbauan dari pemerintah tetap di rumah saja, menjaga kesehatan, dan saling peduli kesesama orang-orang yang membutuhkan, tidak perlu ikut turun ke lapangan untuk membantu.

Jika masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi, disiplin, serta rasa solidaritas yang tinggi, social distancing pun mampu untuk menahan lajunya penyebaran Covid-19 ini.

Kita semua tidak perlu saling menyalahkan satu sama lain siapa yang bersalah atau tidak, yang paling penting saling intropeksi diri dan saling mengingatkan dengan baik agar kita semua sadar akan pentingnya imbauan tersebut.

Setiap kejadian selalu ada hikmahnya dari Tuhan. Semoga pandemi ini cepat berakhir dan kita semua bisa beraktifitas dengan normal serta hidup dengan aman dan damai.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait